Arsip

Sosial Media GBA Center

27 September 2025

Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

Telur Gosong | Amsal 16:32 (TB)

2 min read
Telur Gosong

Telur Gosong 1 Korintus 9:25

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Amsal 16:32 (TB)

Suatu malam, mama —yang bangun sejak masih sangat pagi lalu bekerja keras sepanjang hari mengurus rumah tangga tanpa pembantu—, mulai menyiapkan makan malam yang sederhana bagi keluarga kami. Menunya adalah telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi putih. Sayangnya karena ia memasak sambil mengurusi adik yang rewel dan merengek, tempe dan telur gorengnya sedikit gosong! Mama terlihat sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, untuk memperbaiki hidangan yang gosong.

Tidak lama kemudian, papa pulang. Dengan sedikit tegang, kami menunggu untuk melihat reaksi papa —yang pasti lelah setelah seharian bekerja dan baru pulang ke rumah sekitar waktu makan malam— dan mendapati hidangan makan malamnya gosong. Namun dengan tenang papa menikmati dan memakan semua hidangan yang disiapkan mama. Malah dengan tersenyum papa mengucapkan terima kasih kepada mama karena telah memasak hidangan makan malam yang enak.

Mama menjawab dengan meminta maaf untuk telur dan tempe yang gosong itu. Namun jawaban papa malam itu sungguh meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi saya yang masih kanak-kanak saat itu. “Sayang.., aku suka telur dan tempe yang gosong.”

Waktunya tidur dan saat papa memberi ciuman selamat tidur kepadaku malam itu, aku bertanya pada beliau, apakah ia benar-benar menyukai telur dan tempe yang gosong. Papa memeluk aku dengan erat, lalu berkata, “Anakku, mama sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia pasti sangat lelah. Jadi sepotong telur dan tempe yang gosong tentunya tidak akan menyakiti siapa pun, kan?!” Sambil mengedipkan matanya di akhir kalimatnya.

Dan pelajaran yang demikian berkesan malam itu menjadi landasan prinsip saya dalam membangun hubungan di tahun-tahun setelahnya. Ya, belajar memahami dan menerima kesalahan orang lain, adalah kunci untuk menciptakan sebuah hubungan yang kuat dan sehat. Ledakan emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Jadi usahakanlah perdamaian. Berpikirlah dan bersikaplah dewasa. Miliki pola pikir dan karakter Kristus. Tunjukkanlah kedewasaan rohani yang paham bahwa ada alasan di balik segala hal yang terjadi. Jangan bersikap egois, hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti. Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan.
GOD bless!

Share Artikel ini