Arsip

Sosial Media GBA Center

27 September 2025

Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

Front Seat vs Back Seat | Markus 10:45 (TB)

3 min read
Front Seat vs Back Seat

Front Seat vs Back Seat

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45 TB)

Penulis akan memulai renungan hari ini dengan sebuah pertanyaan, duduk di posisi manakah pembaca ketika waktu sekolah dan kuliah? Sebelah depan atau belakang?

Duduk di sebelah depan atau belakang itu tidak menjamin seseorang jadi pelajar atau mahasiswa yang baik, rajin, dan pintar. Pada umumnya, duduk di belakang itu menyenangkan dan bebas melakukan yang diinginkan tetapi otaknya tetap kosong. Bukan berarti orang yang duduk di depan itu pasti otaknya berisi dan tidak membuat masalah tetapi setidaknya tidak terlalu sering mendapatkan. Mengingat posisinya yang selalu dilihat dan menjadi yang pertama kena tegur guru atau dosen sehingga harus mempersiapkan diri sebelum ujian dan rajin mengerjakan tugas serta berusaha agar tidak kena tegur. Hal tersebut menjadi bagian dalam hidup meskipun awalnya melakukan karena takut menerima hukuman.

Hingga tiba waktunya pergantian semester. Bebas dari amarah orangtua karena banyak nilai bagus didapatkan; tidak mengeluarkan biaya tambahan lantaran mengikuti kuliah semester pendek. Kebanyakan pelajar atau mahasiswa yang tidak berada dalam posisi ini membulatkan tekadnya untuk menyontek ketika diberikan pekerjaan rumah atau saat ujian berlangsung supaya hal serupa tidak terulang. Kembali penulis nyatakan, hal semacam ini tidak selalu merujuk pada pelajar atau mahasiswa yang duduk di belakang tetapi juga yang duduk di depan Apakah anak dengan model seperti ini dapat seutuhnya dipersalahkan? Tentu tidak!

Anak yang demikian adalah buah dari didikan dan perlakuan orangtua terhadapnya. Orangtua lebih mementingkan karir daripada anak; berorientasi pada hasil bukan proses. Penulis tidak bermaksud menyinggung karena Alkitab memang mencatat ada orangtua yang demikian. Yaitu Salome, ibu dari Yakobus dan Yohanes.

Sang ibu meminta supaya kedua anaknya duduk di sebelah kanan dan kiriNya dalam kekekalan. Dalam lain kesempatan, kedua anaknya meminta hal yang serupa. Sesungguhnya tidak ada yang salah dari permintaan tersebut lantaran mereka sudah mengetahui siapa Dia tetapi tidak sepenuhnya dibenarkan. Jika dikaitkan dengan penjelasan penulis mengenai posisi duduk pelajar atau mahasiswa dalam kelas, Yakobus dan Yohanes itu duduk di depan tetapi tidak terlalu memahami materi yang disampaikan ditambah dengan orangtua yang menyangka bahwa segala sesuatu yang diminta pasti langsung Dia berikan. Meskipun pernyataan yang disampaikan oleh Salome dan kedua anaknya merupakan bagian dari iman, untuk berada dalam kekekalan itu membutuhkan proses.

Karena untuk masuk dalam kekekalan, mengasihi Dia dan memiliki iman tidaklah cukup! Harus mengerti dengan sungguh-sungguh maksud kedatanganNya dan karakter Ilahi harus senantiasa dimiliki, yaitu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba. Yang tunduk akan perintah tuannya. Dia datang untuk memerintahkan setiap orang untuk seperti diriNya, yaitu kesederhanaan, rela melayani dan siap menderita demi pemberitaan Kabar Baik. Pada akhirnya, Yakobus dan Yohanes memahami maksudNya, yang dapat kita lihat pada akhir hidup mereka.

Tuhan, saya ingin melewati setiap proses untuk dapat masuk dalam kekekalan. Saya ingin mengenalMu lebih dalam. Mengenal PribadiMu yang sederhana, rela menderita, dan selalu siap melayani. Tentu membutuhkan proses dan tidak mudah, tetapi saya percaya Engkau berikan kekuatan dan senantiasa mengingatkan. Amin!

Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!

Sumber:

  1. https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=41&chapter=10&verse=45
  2. https://wanita.sabda.org/salome_ibu_yang_menginginkan_anak_anaknya_yakobus_dan_yohanes_menjadi_orang_orang_terdekat_yesus
  3. https://rehoboth.e-gpm.id/detail/kepemimpinan-berhati-hamba-markus-10-35-45
Share Artikel ini