Correcting In Truth and Love | Galatia 6:1 (TB)
3 min read
Correcting In Truth and Love Galatia 6:1
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Galatia 6:1 (TB)
Seperti apakah tindakan menegur dalam kebenaran dan kasih itu? Apakah hal itu benar-benar perlu? Bagaimana cara menegur sesama anak TUHAN? Kenyataannya, menegur saudara seiman bukanlah hal yang mudah. Namun saat kita melihat mereka semakin terperosok ke dalam dosa, dan meskipun tahu itu salah, kita justru memalingkan muka, karena kita kuatir persahabatan jadi rusak atau kita dianggap suka menghakimi. Lalu kita berharap agar ada orang lain yang akan menegur. Namun, bagaimana jika TUHAN justru menghendaki kita yang menjadi orang tersebut?
Panggilan TUHAN bukan sekadar untuk mengikut DIA dengan menjaga langkah hidup kita sendiri, melainkan juga untuk mempedulikan orang lain yang jatuh, agar mereka pun dapat berjalan selaras dengan Dia. Teguran yang berkenan pada TUHAN tidak berakar pada penghakiman, melainkan merupakan wujud nyata dari kasih. Dan koreksi yang Ilahi adalah mempertemukan kasih dan kebenaran, serta menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Terkadang kita perlu bersikap lembut terhadap mereka yang sedang bergumul atau tersesat. Sama seperti sikap Yesus terhadap perempuan yang kedapatan berzina. (Yohanes 8:2-11). Orang-orang Farisi hendak merajamnya. Namun, Yesus ingin memulihkannya. DIA tidak membenarkan dosanya, melainkan menuntunnya kepada pertobatan.
Di lain waktu, tindakan koreksi menuntut kita untuk bersikap tegas terhadap mereka yang menyesatkan orang lain. Sama seperti sikap Yesus terhadap orang-orang Farisi (Matius 23). Orang-orang Farisi berebut kekuasaan dan menghalangi orang lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Namun, Yesus menegur mereka dengan tegas.
Dalam tindakan Yesus mengoreksi, IA melakukannya dengan kasih, kebenaran, dan kerendahan hati. Kita pun harus melakukan koreksi dalam kebenaran dan kasih sebagaimana yang dilakukan Yesus. Dan membiarkan kebenaran Allah—bukan nilai-nilai duniawi—yang memandu tindakan kasih kita.
Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua situasi dalam menghadapinya. Justru melalui pertumbuhan kedewasaan emosional dan kepekaan rohani, kita belajar cara mengoreksi dengan bijak. Namun, apa pun situasinya, penanganan terhadap dosa bermula saat kita berlutut dalam doa, bukan dari posisi menghakimi yang merasa lebih benar.
Kita tidak dipanggil untuk terus-menerus menyalahkan orang lain. Ingatlah bahwa kita pun bisa tergoda untuk melakukan dosa yang sama. Sebaliknya, mari kita memandang tindakan menegur bukan sebagai pilihan —yang boleh dilakukan ataupun boleh tidak dilakukan—, melainkan sebagai wujud kasih yang perlu kita tunjukkan kepada saudara-saudari kita.
Dan jika teguran datang kepadamu, tahanlah keinginan untuk membela diri. Teguran mungkin menyakitkan, tetapi juga dapat mempertajam diri kita (Amsal 27:17). Pada intinya, kasih karunia TUHAN tersedia bagi setiap orang yang bertobat (1 Yohanes 1:9). Jadi, marilah kita dengan lembut saling menuntun kembali kepada-Nya saat kita jatuh ke dalam dosa, dalam kasih dan kebenaran.
Terkadang, kasih berarti berani terjun ke dalam situasi yang pelik, bahkan ketika lebih mudah untuk memalingkan muka. Teguran yang berkenan bagi TUHAN bukanlah soal memenangkan perdebatan atau saling menyalahkan. Tujuannya adalah membantu sesama saudara seiman untuk kembali kepada TUHAN, dalam kebenaran dan kasih.
Hal ini memang tidak mudah, namun kita tidak menjalaninya sendirian. Dengan doa, kerendahan hati, dan pertolongan Roh Kudus, kita dapat memulihkan dengan kelembutan serta membimbing dengan ketegasan, sembari saling mengarahkan kembali kepada TUHAN. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk saling menegur dalam kebenaran dan kasih, serta saling mendukung saat kita mengikut Dia.
GOD bless!


