Arsip

Sosial Media GBA Center

16 March 2026

Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

The Shunem Woman: Speak Faith | 2 Raja-Raja 4:23 (TB)

2 min read
The Shunem Woman: Speak Faith

The Shunem Woman: Speak Faith 2 Raja-Raja 4:23

Berkatalah suaminya: “Mengapakah pada hari ini engkau hendak pergi kepadanya? Padahal sekarang bukan bulan baru dan bukan hari Sabat.” Jawab perempuan itu: “Jangan kuatir.” 2 Raja-Raja 4:23 (TB)

Perkenalkan seorang wanita yang memilih iman daripada Ketakutan; Ia tidak berbicara dengan rasa takut. Ia berbicara dengan iman —hanya dengan satu kata. Kisah perempuan Sunem dalam 2 Raja-raja 4:18-37 tidaklah lantang. Kisah itu tidak disertai guntur atau api. Tetapi itu adalah salah satu pernyataan iman paling berani yang pernah dibisikkan: “Shalom.” Artinya : Semuanya baik-baik saja.

Ia bisa saja mengungkapkan rasa takut. Ia bisa saja menangis. Anaknya yang merupakan anak ajaib baru saja meninggal. Anak ajaib yang pernah ia gendong, kini terbaring tak bernyawa di lantai atas. Namun ketika suaminya bertanya apakah semuanya baik-baik saja, ia menjawab dengan bisikan penuh keyakinan: “Shalom.” Ia tidak pingsan, tidak pula menangis atau menjelaskan rasa sakitnya, ia menyatakan kepercayaannya. Shalom (artinya semuanya baik-baik saja). ia memilih iman daripada rasa takut.

Bukan karena semuanya baik-baik saja. Tetapi karena ia percaya bahwa TUHAN masih dapat membuat semuanya baik-baik saja. Satu kata itu bukanlah penyangkalan. Itu adalah pernyataan kepercayaan yang diucapkan di tengah kesedihan. Sebuah kata yang mengatakan kepada TUHAN: Aku masih percaya kepada-MU. Ia tidak patah semangat. Ia tidak melepaskan genggamannya sampai TUHAN bertindak.

Ia bangkit, menaiki keledainya, dan pergi dengan penuh harapan. Ia tidak membiarkan patah hati membentuk pengakuannya. Ia membiarkan harapan membimbing suaranya. Dalam bahasa Ibrani, “Shalom” berarti lebih dari sekadar “damai.” Shalom berarti :

  • Kesempurnaan
  • Pemulihan
  • Tidak ada yang hilang, tidak ada yang rusak, bahkan ketika semuanya tampak rusak.

Ketika ia menemukan sang nabi, ia tidak berteriak atau menuntut. Ia jatuh di kakinya, seorang ibu yang berpegang teguh pada secercah harapan terakhir. Dan ia menolak untuk melepaskan harapan itu sampai TUHAN menjawab. Nabi itu mendatangi anak laki-laki itu. Ia berdoa, dan nyawa anak itu kembali. TUHAN tidak mengabaikan imannya. TUHAN menghargainya. Ucapan “Shalom”-nya bukanlah penyangkalan. Itu adalah pernyataan.

Jika hari ini hati kita terasa berat, kita menanggung sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, tidak perlu berpura-pura kuat. Seperti dia, kita masih bisa berbisik, “Shalom, semuanya baik-baik saja.” Karena TUHAN yang menemuinya, masih menemui kita sekarang.

Jika ada yang masih menunggu, masih berharap, masih bertahan, —semoga kisahnya mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu melihat mukjizat untuk mengucapkan Shalom. Cukup bisikkan di tengah rasa sakit itu, sebab bisikan “Shalom” masih bergema di hati yang menunggu. Dan percayalah bahwa TUHAN mendengar. Di sini. Saat ini juga. Bahkan dalam keheningan.
GOD bless!

Share Artikel ini