Selamat Sampai Tujuan | Matius 15:32 (TB)
2 min read
Selamat Sampai Tujuan
Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” (Matius 15:32 TB)
Segala sesuatu dipersiapkan terlebih dahulu sebelum hendak berpergian agar aman dan nyaman selama perjalanan dan selamat sampai tujuan. Apa sajakah yang perlu dipersiapkan?
Yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah mempersiapkan barang-barang yang berkaitan dengan tujuan keberangkatan. Setelah itu memikirkan cara bagaimana bisa sampai ke tempat yang dituju, menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum? Jika menggunakan kendaraan pribadi, tentunya memperhatikan kondisi kendaraan dan menggunakan sabuk pengaman atau helm selama perjalanan. Jika menggunakan transportasi umum, tentunya mengikuti aba-aba dari petugas dan memperhatikan posisi saat berjalan. Sebelum mempersiapkan dan memperhatikan semua itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu kondisi fisik.
Kondisi fisik tetap harus dipersiapkan meskipun dapat dilakukan sembari berjalan. Maksudnya, di tengah perjalanan bisa singgah ke restoran, kafe, warung atau minimarket untuk mengisi perut dan melepas dahaga; singgah ke warung dan minimarket untuk membeli obat-obatan; singgah ke pom bensin untuk buang air. Penjelasan penulis pada paragraf kedua dan ketiga tentu tidak hanya tertuju bagi diri sendiri melainkan juga keluarga dan orang terdekat lainnya yang ikut beserta.
Hingga tiba waktunya kembali ke daerah asal dan beraktivitas seperti biasa. Tentu saja bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan ketika sedang berjalan kaki atau berada di transportasi umum. Banyak orang memutuskan untuk tidak memberikan pertolongan karena merasa capek, ngantuk, repot, tidak membawa uang kertas atau takut menjadi korban kejahatan. Sesungguhnya, setiap orang yang tidak mau memberikan pertolongan tidak dapat dipersalahkan tetapi tidak sepenuhnya dibenarkan.
Karena Allah yang kita sembah adalah Pribadi yang berbelas kasiham. Dia tidak hanya mementingkan keselamatan para murid tetapi juga orang banyak. Kita dapat lihat dalam kisah Dia memberi makan lima ribu dan empat ribu orang. Dia tentu mengenal orang banyak tetapi tidak dengan para murid meskipun sudah tiga hari bersama dengan mereka.
Alkitab tidak mencatat bagaimana perasaan para murid ketika menyerahkan roti dan ikan yang mereka miliki. Yang Alkitab catat ialah, roti dan ikan masih tersisa beberapa bakul sehingga orang banyak tidak pingsan di jalan dan kemungkinan para murid masih dapat menikmatinya.
Jika kisah tersebut dikaitkan dengan keadaan zaman now, dimana kasih kebanyakan orang menjadi dingin karena mobilitas yang tinggi; gadget dan kejahatan yang semakin merajalela, kita harus memiliki belas kasihan. Tidak hanya kepada keluarga atau orang terdekat kita tetapi juga orang yang tidak dikenal. Dengan cara apakah? Dengan mengabaikan rasa capek dan ngantuk; memberikan pertolongan yang dapat kita berikan; menanggalkan perasaan takut agar mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan nyaman dan dapat sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
Tuhan, kiranya Engkau menjadikan hati saya senantiasa penuh dengan belas kasihan sehingga saya dapat menolong orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun, entah keluarga; orang terdekat saya bahkan orang yang tidak saya kenal. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Mat%2015:32-39


