Invisible Wound | Mazmur 56:9 (TB)
3 min read
Invisible Wound Mazmur 56:9
“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Mazmur 56:9 (TB)
Sebagian dari kita mungkin menjalani hidup dengan hati yang terluka tanpa menyadarinya. Tidak semua patah hati terasa seperti tusukan di dada atau hantaman keras di perut. Ada kalanya rasa sakit itu menggerogoti kita secara perlahan, membuat kita memandang diri sendiri dan dunia melalui kacamata kesedihan.
Dulu saya mengira patah hati itu seperti harapan yang direnggut secara paksa dari tangan yang gemetar. Namun, seperti yang kini saya sadari, ada patah hati yang tidak berlangsung secara dramatis. Jenis kesedihan yang sunyi, yang tidak meninggalkan jejak nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti kekecewaan yang membuat kita terjaga di malam hari, terus menganalisis apa yang sebenarnya keliru. Atau penyesalan yang membuat kita mendambakan apa yang mungkin bisa terjadi seandainya segalanya berbeda.
Mungkin juga harapan yang kian meredup, namun tetap dipertahankan agar tidak padam sepenuhnya melalui dialog batin yang tak henti-hentinya. Ada patah hati yang membuat kita tetap bisa beraktivitas, namun di saat yang sama, kita masih merasakan kerinduan dan kepedihan. Patah hati semacam inilah yang sering kali kita abaikan—kita lupa bahwa TUHAN justru ingin memulihkannya.
Mungkin kita tidak sampai mengalami kehancuran emosional yang melumpuhkan kehidupan sehari-hari. Namun, TUHAN sama pedulinya terhadap kekecewaan maupun rasa getir yang tidak terlalu tampak, yang mungkin sedang kita rasakan. TUHAN mencatat setiap kali kita gelisah dan bolak-balik sepanjang malam tanpa tidur, dan setiap air mata yang dimasukkan ke dalam catatan-Nya, dan setiap rasa sakit yang ditulis di dalam kitab-Nya, —betapapun tidak terlihatnya hal-hal tersebut bagi dunia. (Mazmur 56:8, The Message).
Namun, Tuhan menawarkan pemulihan—baik saat ini maupun pada akhir dari segalanya. Jika TUHAN menganggap semua ini cukup penting untuk dicatat, pastilah Ia memiliki rencana untuk pemulihan. Untuk menerima pemulihan, kita harus terlebih dahulu mengakui kondisi hati kita. Mungkin hati kita tidak hancur sepenuhnya, tetapi sedang dalam proses kehancuran. Mungkin rasa sakit itu tidak sampai melumpuhkan kita, tetapi rasa nyeri yang ada membuat sukacita terasa begitu sulit digapai.
Mari akui, “TUHAN, hatiku terasa berat. Aku tidak ingin lagi menyangkal kenyataan ini.” Mazmur 147:3 dan Mazmur 30:2 berkata, “Maka berserulah kepada Allah untuk meminta pertolongan, karena pemulihan adalah janji-Nya,” IA peduli pada hati yang terluka.
Untuk menuntaskan segala pertanyaan “bagaimana jika” dan penyesalan “seandainya saja”, kita dapat menemukan penghiburan dalam kebenaran bahwa rencana TUHANlah yang selalu terlaksana (Amsal 19:21). Kita memang bisa berduka atas kehilangan dan merasakan kepedihan akibat kekecewaan, namun hal-hal tersebut tidak harus menentukan realitas hidup kita. Kisah kita dibentuk oleh tangan TUHAN yang berdaulat. IA tetap baik, bahkan dalam situasi tersulit.
Ingatlah, TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:19a). Di tengah kepatah-hatian, IA jauh lebih dekat daripada yang dapat kita bayangkan. Dan IA menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mazmur 34:19b). Sepanjang perjalanan hidup, hati kita mungkin akan berulang kali patah lalu dipulihkan kembali, tetapi kelak, hati kita akan tetap utuh sempurna untuk selama-lamanya. Sebab TUHAN tidak tinggal diam; IA mengulurkan tangan untuk mengangkat kita keluar dari keputusasaan dan hilangnya harapan. IA sangat peduli pada kita. Mengapa tidak berseru kepada-Nya hari ini?
GOD bless!


