Hannah: Tears In Thy Bottles | 1 Samuel 1:10 (TB)
2 min read
Hannah: Tears in Thy Bottles 1 Samuel 1:10
“Dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.” 1 Samuel 1:10 (TB)
Beberapa kisah dimulai dalam keheningan. Dan beberapa lagu lahir dari penderitaan. Hannah tidak hanya menangis. Ia mencurahkan isi hatinya. Dan ketika tidak ada orang lain yang melihatnya, TUHAN melihatnya. Rasa sakit yang tak dilihat siapa pun. Ia tersenyum di luar, namun menangis dalam hati.
Tahun demi tahun, ia menunggu. Sementara orang lain berbisik, dan Peninnah mengejek. Lengannya tetap kosong. Namun Hannah tidak melawan. Ia tidak bergosip atau menghasut. Ia membawa kesedihannya ke tempat yang penting. Kepada DIA yang Maha Melihat. “Ia sangat sedih hatinya, lalu berdoa kepada Tuhan dan menangis dengan penuh kesengsaraan.” 1 Samuel 1:10 (NKJV)
Doa Tanpa Kata-kata. Tidak seorang pun mendengar suaranya. Tetapi surga mendengarnya. Dia tidak berteriak. Dia tidak memohon dengan keras. Bibirnya bergerak, dan jiwanya hancur. TUHAN, —yang membentuknya— menangkap setiap kata yang tak terucapkan seperti hujan ke dalam kirbat-Nya. Dan TUHAN tidak melupakannya.
Dalam rahim penantian yang tenang, DIA sedang membentuk lebih dari sekadar bayi. TUHAN sedang membentuk seorang nabi, dan seorang wanita yang pujiannya akan bergema dari generasi ke generasi. “Dan TUHAN mengingatnya.” 1 Samuel 1:19 (NKJV)
Dan Hannah mengembalikannya. Mukjizat yang dia doakan, dia kembalikan kepada TUHAN. Dia tidak memegang lebih erat. Dia melepaskannya dengan percaya. Karena imannya tidak pernah
hanya pada pemberian itu. Imannya ada pada Sang Pemberi. “Untuk anak ini aku berdoa, dan Tuhan mengabulkan permohonanku…” 1 Samuel 1:27 (NKJ).
Nyanyiannya masih berkumandang hingga hari ini. Dari kemandulan menuju terobosan. Dari tangisan menuju penyembahan. Kisah hidupnya mengingatkan setiap hati yang berduka, bahwa ALLAH melihat. ALLAH mendengar. Dan Allah mengingat. Bahkan doa yang paling sunyi pun dapat melahirkan pergerakan Allah.
Hannah mengajarkan kita bahwa:
• Doa yang tenang pun masih mengguncang surga.
• Penyerahan diri lebih kuat daripada perjuangan.
• Dan bahkan dalam kesakitan, TUHAN sedang mempersiapkan suatu tujuan.
Bahkan doa yang paling sunyi pun dapat melahirkan pergerakan Allah.
Kisahnya tidak hanya melahirkan seorang nabi. Pujiannya membawa bisikan pertama tentang Mesias. Sebelum raja-raja dinobatkan, sebelum para nabi menyatakan, ibadah seorang wanita menunjuk kepada RAJA segala raja. Nubuat terungkap dalam pujiannya. Pertama kali kata “Mesias” muncul dalam Alkitab adalah dalam nyanyian seorang wanita. Sebuah nyanyian yang lahir dari air mata, penyerahan diri, dan penyembahan.
Jika saat ini ada yang sedang dalam masa penantian yang panjang, biarkan kisahnya mengingatkan kita semua bahwa kita tidak dilupakan, tidak diabaikan. Dan doa kita tidak pernah tidak didengar. IA mengingat. IA memulihkan. IA menebus. DIA sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih dalam, penebusan yang hanya DIA yang dapat menuliskannya. Kita tidak sendirian. TUHAN masih bekerja. Amin.
GOD bless!


