Boaz: The Shadow of GOD | Rut 4:7-8 (TB)
2 min read
Boaz: Shadow of GOD Rut 4:7-8
Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel. Lalu penebus itu berkata kepada Boas: “Engkau saja yang membelinya.” Dan ditanggalkannyalah kasutnya. (Rut 4:7-8 TB)
Yang terlihat Boaz hanyalah seorang suami. Tapi dia lebih dari itu. Boaz bukan hanya suami Ruth. Boaz adalah bayangan Yesus. Dia yang tidak hanya menikahi, tetapi menebus. Sebuah gema sunyi dari kasih yang lebih besar yang akan datang. Karena ketika orang yang seharusnya menebus berkata tidak, Boaz berkata ya. Ketika seseorang pergi, ia melangkah maju. Ada seorang pria lain yang pertama kali berhak menebus Ruth. Tetapi ia menolak. Boaz tidak.
Lebih dari sekadar pembayaran, Boaz meresmikan pernikahan itu dengan sebuah sandal. Boaz memberi Ruth sebuah nama. Yesus menjadikannya kekal dengan darah-Nya. Yesus memberi kita identitas baru.
Bukan tentang percintaan. Ini adalah permohonan untuk dilindungi. Seruan untuk dipeluk. Ruth berasal dari Moab, suatu bangsa yang pernah dilarang masuk ke dalam perkumpulan ALLAH (Ulangan 23:3). Namun kasih karunia melampaui perbatasan itu. Ruth tertulis dalam garis keturunan Yesus.
Dan berabad-abad kemudian, Yesus melakukan hal yang sama. DIA tidak menunggu orang lain untuk memilih kita. Yesus turun tangan ketika orang lain pergi. Dan DIA tidak membayar dengan perak. DIA menebus kita dengan darah-Nya sendiri. Dan tidak hanya menebus dosa kita, DIA menulis ulang seluruh kisah hidup kita. DIA melihat orang asing dan memanggilnya keluarga. DIA melihat orang luar dan menyambutnya. DIA melihat kita dan berkata, “Engkau adalah milik-Ku.”
Kita tidak dilupakan, tidak diabaikan. Dan bukan rencana cadangan. Kita adalah alasan DIA datang. Kita bukan seperti yang dikatakan dunia tentang kita. Bukan apa yang terjadi. Bukan apa yang rusak. Bukan apa yang hilang. Saat rasa malu merayap, saat label dunia lebih keras daripada suara-Nya, —ingat, DIA tetap memanggilmu: “Yang Terkasih. Yang Ditebus. Milik-Nya.” Amin.
GOD bless!


