Arsip

Sosial Media GBA Center

7 November 2025

Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

Tidak Marah | Kejadian 50:20 (TB)

2 min read
Tidak Marah

Tidak Marah

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20 TB)

Marah adalah perasaan tidak senang yang diakibatkan oleh beberapa hal dan diunhgkapkan dengan berbagai cara. Penulis hanya menguraikan penyebab yang umum terjadi dan cara yang umum dilakukan.

Secara umum, seseorang marah karena merasa terganggu atau tersakiti. Berkata dalam hati atau kepada lawan bicara yang bersamanya saat itu, “saya tidak terima dengan apa yang telah ia lakukan! Ia harus turut merasakannya!” Beberapa orang merasa kalimat sarkasme dan vonis sudah cukup tetapi beberapa orang memutuskan untuk menyimpan dendam. Ibarat letusan gunung yang mengeluarkan abu vulkanik, demikian pula dengan seseorang yang sulit melihat kuasa Allah dalam hidupnya akibat menaruh dendam. Sampai tiba waktunya yang bersangkutan sanggup berdamai dengan rasa sakit dan tidak nyaman. Apa yang penulis uraikan terinspirasi dari kisah Yusuf, anak sulung Yakub dari pernikahannya dengan Rahel.

Yusuf mendapatkan perlakuan istimewa karena lahir di masa tua Yakub Saudara-saudaranya berikhtiar untuk membunuh Yusuf tetapi tidak jadi dilakukan ketika melihat saudagar dari Midian melintasi Dotan. Apa yang dilakukan oleh Yehuda beserta saudara kandung lainnya menjadi awal dari semua penderitaan Yusuf. Marah itu pasti tetapi ia memutuskan untuk mengampuni.

Ia tidak hanya mengucapkan kalimat pengampunan tetapi sungguh-suungguh melakukannya. Karena ia melihat bahwa perbuatan jahat mereka adalah sarana yang dipakaiNya untuk menjadikan dirinya sebagai perpanjangan tangan Allah untuk menyelamatkan seluruh negeri Mesir dari bencana kelaparan. Dari kisah Yusuf, kita menjadi paham bahwa keputusan untuk mengampuni tidak hanya mengaktifkan kuasa Allah bagi diri sendiri tetapi juga orang lain. Pertanyaannya, apakah pembaca tetap ingin mengelola emosi dengan buruk hingga akhirnya menaruh dendam atau memutuskan untuk mengampuni setelah membaca renungan hari ini?

Tuhan, terima kasih sudah mengingatkan bahwa kita tidak dapat mencegah orang lain untuk tidak berbuat jahat. Mengampuni dengan tulus adalah bagian dari mengaktifkan kuasaMu atas diri saya dan Engkau akan mengaktifkan kuasaMu melalui saya. Oleh sebab itu, saya akan belajar untuk mengampuni siapapun yang menyakiti dan membuat tidak nyaman meskipun tidak mudah. Amin!

Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!

Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=1&chapter=50&verse=20

Share Artikel ini
Copyright © GBA Center 2024. | Newsphere by AF themes.