Tak Pandang Bulu | Matius 20:16 (TB)
2 min read
Tak Pandang Bulu
“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Matius 20:16 TB)
Secara sederhana, tak pandang bulu berarti tidak membeda-bedakan. Semua orang mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memandang posisi dan status. Contoh nyata dapat kita lihat dalam hubungan orangtua-anak; perbedaan perlakuan antara orang miskin dan kaya. Mari kita bahas satu-persatu.
Kepada orangtua yang memiliki beberapa anak, tentu telah mengetahui bahwa tidak ada anak yang tidak disayang. Tetapi tidak menyadari bahwa telah memberikan perlakuan yang berbada. Tidak harus selalu anak sulung tetapi anak bungsu atau anak tengah. Seorang begitu dididik dengan keras dan dituntut untuk menjadi pribadi yang dapat diandalkan sementara lainnya begitu disayang dan dimanja. Ketika sedang berada di rumah atau mungkin pergi keluar, sang anak mendengar kisah serupa yang ia lihat atau rasakan.
Tak hanya mendengar kisah serupa yang ia lihat atau rasakan tetapi juga mendengar bahwa di beberapa tempat, banyak orang kaya; terpandang dan terhormat mendapat perlakuan spesial dan tidak perlu mendekam di jeruji dalam waktu yang lama. Sementara orang yang tidak demikian mendapatkan banyak kesulitan bahkan terintimidasi. Hingga akhirnya sang anak menyadari bahwa perlakuan yang tidak adil merupakan hal yang lumrah.
Lumrah bagi dunia tetapi tidak dalam kekekalan. Sebuah perumpamaan Dia sampaikan berkenaan dengan hal tersebut. Yaitu perumpamaan mengenai orang-orang upahan di kebun anggur.
Ada enam waktu sang pemilik kebun anggur mencari para pekerja. Pagi-pagi benar, pukul sembilan pagi, tengah hari, pukul tiga dan lima sore. Waktu terus berlalu dan kini saatnya pembagian upah. Orang yang bekerja sejak pagi-pagi benar mendapatkan upah yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya. Sah-sah saja sebenarnya berharap demikian tetapi sang tuan tetap melakukan apa yang telah dijanjikannya, yaitu sedinar sehari. Perumpamaan tersebut tidak mengajarkan tentang upah melainkan perlakukan semua orang dengan adil karena semua orang itu sama dalam pemandanganNya.
Jika Dia memperlakukan semua orang sama, mengapa kita membeda-bedakan anak yang satu dengan anak lainnya; mengapa orang kaya dan miskin tidak mendapat perlakuan yang sama? Pernyataan penulis tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun tetapi biarlah kita semua belajar untuk berlaku adil pada semua orang.
Tuhan, saya berdoa supaya senantiasa diingatkan untuk berlaku adil pada semua orang. Tidak membeda-bedakan orang yang kaya dengan miskin; tidak membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak lainnya ketika saya telah menjadi orangtua; dan hal lainnya yang berkaitan dengan memperlakukan orang lain dengan adil. Memang tidak mudah tetapi saya percaya bahwa Engkau akan memampukannya. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://www.sarapanpagi.org/13-perumpamaan-tentang-orang-orang-upahan-di-kebun-anggur-vt1409.html


