Speechless | Roma 8:26 (TB)
2 min read
Speechless
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (Roma 8:26 TB)
Penulis teringat dengan pernyataan yang berbunyi, bahwa seorang murid tidak lebih daripada gurunya dan seorang hamba daripada tuannya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Kristen bukan sekedar agama, melainkan hidup seperti Kristus.
Hidup seperti Kristus berarti menderita. Yang kita ketahui selama Dia menjadi Anak Manusia ialah sulit beristirahat; ditolak; menghadapi rasa takut sendirian meski tiga orang murid berada di dekatNya; dikhianati; dicaci maki, tetapi Dia menghadapinya dengan tabah. Kebenaran tersebut tidak terlalu ditekankan oleh banyak orang Kristen.
Banyak orang Kristen menekankan bahwa tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan oleh Tuhan. Sakit disembuhkan; dikasihi semua orang; cepat mendapat jodoh; cepat mendapatkan pekerjaan; terlepas dari masalah ekonomi akan segera diselesaikanNya. Tak ada yang salah dengan pernyataan tersebut karena Dia adalah Imam Besar yang turut merasakan kelemahan setiap orang. Tetapi menjadi tidak tepat karena pada akhirnya membuat hati jadi semakin berat dan pikiran jadi semakin kacau ketika semua yang diucapkan itu tak kunjung terwujud.
Hanya bisa marah, menangis, dan meratap. Mengapa pergumulan hidup tak kunjung berkurang, melainkan bertambah berat? Bagi setiap kita yang sedang dalam fase tersebut, ingatlah dengan pernyataan Paulus yang berkata, Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Jika dikaitkan dengan penjelasan penulis pada paragraf sebelumnya, maksud dari pernyataan tersebut ialah, ketika hati terasa semakin berat dan pikiran terasa semakin kacau, marah dan menangislah dalam doa sampai kita sanggup berterima kasih padaNya karena Dia hadir dan menemani sampai benar-benar kuat dan mampu berdamai dengan keadaan.
Setelah kita sanggup berdamai dengan keadaan, perlahan namun pasti kita dituntunNya untuk mengerti bahwa Kekristenan bukan hanya bicara tentang bebas dari pergumulan, melainkan tetap berdoa, mengucap syukur, dan mengikuti kehendakNya.
Tuhan, penulis berdoa bagi setiap pembaca yang saat ini yang sedang mengalami beban dan pergumulan yang berat. Terima kasih karena telah berbicara melalui renungan hari ini agar dengan leluasa menyatakan setiap perasaan yang ada, entah itu marah; sedih atau kecewa. Penulis percaya bahwa Engkau menjamah hati, merangkul dan memeluk mereka. Hingga tiba waktunya mereka jadi kuat sehingga mampu mengucap syukur dan tergerak untuk mencari makna Kekristenan yang sesungguhnya. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemunugd!
Sumber:


