Nikmat Membawa Sengsara | 2 Korintus 6:14 (TB)
2 min read
Nikmat Membawa Sengsara
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (2 Korintus 6:14 TB)
Judul renungan hari ini merupakan lawan dari sebuah peribahasa yang cukup familiar. Penulis tidak hanya uraikan arti dari peribahasa tersebut tetapi juga judul renungan hari ini.
Sengsara membawa nikmat merujuk kepada orang yang dahulu hidup menderita, kini hidup nyaman dan bahagia setelah sekian lama berusaha. Banyak orang mengambil pilihan yang salah. Akibatnya, hidup yang semula nyaman dan bahagia, kini berakhir dengan penderitaan. Itulah makna dari judul renungan hari ini.
Banyak orang memutuskan untuk menjalani pola hidup yang tidak sehat, salah satunya ialah merokok atau menggunakan vape. Akibatnya harus menjalani perawatan intensif karena telah mengidap penyakit kronis, termasuk kanker. Entah yang bersangkutan menjalani pola hidup sehat atau tidak, beberapa di antara mereka memutuskan untuk berpacaran dengan orang yang memiliki wajah yang rupawan, karir yang cemerlang, romantis, dan selalu bersikap manis dan sopan tetapi bukan orang Kristen atau seiman tetapi tidak jauh berbeda dari yang bersangkutan bahkan lebih parah.
Yang bersangkutan sudah menjadi orang Kristen sejak dalam kandungan sang ibu. Tidak hanya rajin ke gereja dan aktif melayani tetapi sudah berulang kali menuntaskan pembacaan Alkitab dan senang menyelidikinya. Sayangnya, belum memiliki keintiman yang mendalam denganNya, rutin menyelidiki Alkitab tetapi belum terlalu menghidupinya. Berpacaran dengan orang yang penulis uraikan pada paragraf sebelumnya sanggup berikan kebahagiaan hingga tahun-tahun awal pernikahan.
Bahagia berubah jadi derita ketika suatu hari menyadari bahwa semua telah berubah drastis. Bukan hanya istri atau suami yang berubah tetapi juga kehidupan Kekristenan yang bersangkutan.
Tidak menyakiti hati Tuhan dengan berhenti menjadi orang Kristen melainkan dengan tidak menjadikan Dia sebagai prioritas utama. Jangankan melayani, pergi ke gereja sudah tidak pernah. Jangankan membaca dan menyelidiki Alkitab, membangun keintiman denganNya sudah tidak pernah. Mungkinkah yang bersangkutan dapat semakin memahami bahwa hidup adalah nafasNya? Jauh lebih besar rasa penyesalan akibat tidak melibatkan Tuhan saat pendekatan dan sebelum menikah dibandingkan menjalani pola hidup yang tidak sehat.
Penyesalan itu selalu datang terakhhir. Daripada terus-menerus menyesali dan melakukan tindakan yang membuat hatiNya makin sakit, alangkah lebih baik jika yang bersangkutan meminta ampun dan kekuatan padaNya dalam menjalani hidup dari keputusan yang sudah diambil.
Penulis berdoa bagi setiap pembaca. Tidak hanya pembaca yang merupakan orang muda tetapi juga pembaca yang memiliki anak dengan kategori usia tersebut. Jika sudah terlanjur menjalani pola hidup yang tidak sehat atau berpacaran dengan yang tidak sepadan bahkan tidak seiman, Tuhan tolong jamah hati mereka supaya kembali mengingat bahwa hidup mereka adalah nafas Allah yang senantiasa harus dijaga. Jika belum, tolong ingatkan mereka agar menjalani pola hidup sehat dan berpacaran dengan orang yang seiman dan sepadan. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber:


