Arsip

Sosial Media GBA Center

25 January 2026

Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

Loving the World vs Loving God | 1 Yohanes 2:15 (TB)

2 min read
Loving the World vs Loving God

Loving the World vs Loving God

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (1 Yohanes 2:15 TB)

Renungan berjudul Who is Beside You telah menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari pergaulan yang buruk serta yang baik. Hari ini, penulis akan menjelaskan lebih dalam mengenai hal tersebut.

Pergaulan yang buruk tidak harus menjadikan yang bersangkutan sebagai pribadi yang suka berkata kotor dan sia-sia, suka bergosip, suka berbohong, menjadi pemarah; terlibat tawuran, kecanduan alkohol, kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang serta melakukan tindakan kriminal, melainkan jadi pribadi yang mengasihi diri sendiri dan hidup dalam kekhawatiran.

Mengasihi diri sendiri dengan workaholic dan shopaholic. Harga diri menjadi naik kalau punya jabatan tinggi; memiliki barang branded, dapat liburan ke luar negeri; makan di restoran mahal. Semua itu terjadi karena bergaul dengan kaum sosialita yang memengaruhi hati dan pikiran yang bersangkutan. Khawatir dan cemas jika mereka menjauhi yang bersangkutan akibat tidak bisa mengikuti standar hidup mereka.

Mungkin tidak mengasihi diri sendiri akibat berteman dengan kaum sosialita, melainkan kekhawatiran yang ditimbulkan dari biaya hidup di kota besar yang serba tinggi. Tidak hanya kebutuhan hidup, melainkan biaya sekolah dan/atau kuliah sang anak. Menggerakkan yang bersangkutan untuk bekerja keras sampai mendapatkan jabatan yang tinggi agar dapat mencapai strata ekonomi menengah ke atas. Kesimpulan dari penjelasan penulis mengenai dampak dari pergaulan yang buruk ialah mencintai dunia.

Mencintai dunia itu tak ada artinya. Karena semua itu tidak akan dibawa ketika sudah waktunya meninggal. Bukan tidak boleh bekerja keras; berbelanja; berlibur; menyekolahkan sang anak di sekolah yang bergengsi atau kuliah di luar negeri, melainkan harus ada takarannya. Tubuh, hati, dan pikiran butuh istirahat; jiwa membutuhkan makanan rohani; harus menabung dan membuat perencanaan keuangan jangka panjang – akan penulis jelaskan lebih dalam pada renungan lainnya. Apa yang baru saja penulis uraikan hanya didapatkan jika memiliki pergaulan yang baik.

Karena pergaulan yang baik tidak hanya menjadikan yang bersangkutan sebagai pribadi yang rajin, berprestasi, memiliki kasih serta buah Roh yang matang, hidup dalam disiplin serta hidup dalam integritas, melainkan juga menyadarkan untuk tidak khawatir serta dilingkupi oleh rasa cukup. Semua itu mengisyaratkan bahwa hidup di dunia hanya sementara dan akhirnya akan kembali ke rumah Bapa di Sorga.

Jika yang bersangkutan telah memiliki pola pikir yang penulis uraikan pada akhir paragraf sebelumnya, selamat! Anda telah menjadi seorang pemenang dan niscaya hidup pasti lebih tenang dan bahagia meskipun disematkan julukan aneh; munafik; sok suci; ketinggalan berita; ketinggalan zaman oleh teman-teman sebelumnya.

Tuhan, terima kasih sudah memperdalam pengetahuan tentang pergaulan yang buruk dengan yang baik.. Penulis berdoa sekali lagi bagi mereka yang masih terjerat dalam pergaulan buruk agar semakin diteguhkan untuk meninggalkan dan tergabung dalam pergaulan yang baik. Bukan hanya memberikan dampak yang positif dalam hidup, melainkan buat semakin cinta padaMu. Amin!

Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!

Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=1Yoh&chapter=2&verse=15

Share Artikel ini