Wearing the New One | Efesus 4:22-23 (TB)
2 min read
Wearing the New One
Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu. (Efesus 4:22-23 TB)
Pada suatu hari, tepatnya ketika membuka lemari pakaian, yang bersangkutan terdiam sejenak menatap banyaknya pakaian yang tersusun. Sudah tidak ada ruang untuk pakaian baru masuk ke dalamnya. Apa yang baru saja penulis uraikan tidak hanya merujuk kepada setiap orang yang gemar membeli pakaian, melainkan yang sering mendapat pemberian pakaian bekas yang masih layak pakai.
Pakaian bekas layak pakai yang diterima tentu saja berasal dari orang yang hatinya tergerak begitu saja untuk memberikan. Tentu akan memakainya jika hanya mendapat sehelai, tetapi belum tnetu jika mendapat beberapa setel. Hal tersebut terus berulang sampai lemari menjadi penuh. Akhirnya yang bersangkutan harus membongkar lemari dan memberikannya kepada anggota keluarga lainnya atau orang yang membutuhkan – korban bencana; penghuni panti asuhan atau panti jompo. Beberapa orang tidak berbuat seperti itu, melainkan menjualnya dengan melaksanakan live streaming. Sebelum beralih ke paragraf berikutnya, izinkan penulis bertanya, pembaca merupakan orang yang senang memberikan pakaian atau menjualnya kembali? Jika jawabannya adalah yang kedua, apakah masih teringat untuk mengalokasikan sebagian dana yang terkumpul untuk menolong orang yang membutuhkan?
Jika jawabannya ialah menolong orang yang membutuhkan, berarti yang bersangkutan telah memiliki hati dan pikiran yang sesuai dengan standar Kekekalan. Salah satunya ialah menolong orang lain yang terkena musibah atau menjadi penghuni panti. Tidak hanya memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, melainkan supaya memahami standar Kekekalan lainnya.
Masih ada standar lainnya dalam Kekekalan, yaitu hidup dalam kekudusan senantiasa. Membuang dari hati dan pikiran akan daya tarik dunia yang penuh demgan kejahatan serta keinginan daging yang sudah jelas merujuk pada kesenangan pribadi dan teman-teman yang menjerumuskan. Kembali pada paragraf sebelumnya, bentuk lainnya dari menolong sesama ialah memberikan nasihat, kritik, dan saran agar turut memiliki hati dan pikiran yang sesuai dengan standar Kekekalan. Bagaikan pakaian kesukaan yang selalu dikenakan, mengikuti standar Kekekalan yang sudah penulis uraikan dalam renungan hari ini dijadikan sebagai gaya hidup.
Tuhan, saya berkomitmen untuk mengenakan standar Kekekalan sebagai gaya hidup. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=49&chapter=4&verse=22


