Mary from Bethania: Mindfulness | Lukas 10:39 (TB)
2 min read
Mary from Bethania: Mindfulness
Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. (Lukas 10:39 TB)
Mindfulness merujuk kepada setiap orang yang hadir seutuhnya. Bukan hanya fisik, melainkan juga hati dan pikiran; bukan meninggalkan tugas dan tanggung jawab, melainkan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mendengarkan dengan penuh perhatian setiap orang yang sedang berkunjug ke rumah yang bersangkutan; setiap orang yang sedang bepergian bersama dengan yang bersangkutan; setiap orang yang menghubungi via telepon atau chat. Karena fisik, hati dan pikiran hadir sepenuhnya bagi lawan bicara, yang bersangkutan menjadi tahu apa yang menjadi isi hati dan keinginan lawan bicara. Apa yang baru saja penulis uraikan sepertinya mudah untuk dilakukan ketika sedang berhadapan dengan orang yang dekat, tetapi tidak dengan orang yang jauh.
Semua kembali pada masing-masing pribadi. Bisa jadi kita begitu mindfulness dengan orang yang jauh, tetapi tidak saat berhadapan dengan orang yang dekat. Supaya pembaca memahami maksud dari akhir paragraf sebelumnya dan awal paragraf ini, mari kita lihat bersama kisah Maria dari Betania.
Jadi ceritanya, Anak Manusia mengunjungi rumah Maria dan saudaranya Marta. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Marta sebab memang seharusnya dilakukan oleh tuan rumah. Namun, tidak menjadi tepat karena Marta dan Maria sudah mengenal Dia dengan baik – kisah Lazarus dibangkitkan. Seharusnya ia menunda sejenak untuk menjamu dan duduk di kakiNya untuk mendengarkan FirmanNya. Dari kisah ini, kita dapat melihat jelas, Anak Manusia masih ada di depan mata, duduk dikakiNya saja tidak, bagaimana mungkin mindfulness dapat terjadi?
Kembali pada Maria, karena ia duduk di kakiNya dan mindfulness, ia dapat mengenal PribadiNya dan apa yang akan terjadi pada diriNya. Andai saja Marta melakukan seperti Maria, tentu ia dapat melakukan hal yang sama saat menjelang Paskah – peristiwa Anak Manusia diurapi di Betania. Apa yang dilakukan Marta juga masih sering terjadi pada masa sekarang ini, terlebih dengan mobilitas yang semakin tinggi. Secara fisik ke gereja atau persekutuan, tetapi hati dan pikirannya melayang ke pekerjaan.
Bukan hanya kepada Tuhan, kepada sesama pun seringkali demikian. Jadi, melalui renungan hari ini, mari kita melatih diri untuk mindfulness kepada Tuhan dan sesama, dimanapun dan kapanpun. Memang tidak mudah, tetapi percayalah, dengan latihan secara konsisten serta mengikuti arahan dari Roh Kudus, kita pasti bisa menjadi pribadi yang mindfulness.
Tuhan, tolong ingatkan saya senantiasa agar mindfulness kepada Engkau dan juga sesama. Supaya saya dapat mengenal PribadiMu, dapat mengetahui apa yang menjadi kerinduan serta keluh kesah sesama saya manusia tanpa menghakimi. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber:


