Jiwa yang Tertekan | Mazmur 42:12 (TB)
2 min read
Jiwa yang Tertekan
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:12 TB)
Adakalanya kita merasa tak berdaya. Tidak selalu menyerang fisik,tetapi batin. Tidak selalu karena kegagalan, melainkan keberhasilan. Tidak selalu karena keterbatasan, tetapi keberhasilan. Begitu jelas terasa ketika berada di tempat yang bersangkutan menghabiskan waktu.
Dimanakah yang bersangkutan banyak menghabiskan waktu? Di rumah, di sekolah, di kampus, tempat kerja. Ingin sekali berlari jauh, tetapi rasanya tidak mungkin! Karena rumah adalah tempat bertumbuh, berkembang, dan membangun bahtera rumah tangga; di sekolah dan di kampus adalah tempat menimba ilmu; di tempat kerja adalah tempat mencari uang demi kelangsungan hidup. Meskipun dapat menyingkir sejenak untuk menghibur diri; meskipun yang bersangkutna berpindah tempat, tetap saja akan bertwmu dengan orang yang mengejek dan mencaci-maki karena tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan atau sesama yang tidak menerima keberhasilan yang telah dicapai. Pada akhirnya semua itu membuat jiwa tertekan lantaran terjadi secara berulang.
Ketika jjiwa sudah tertekan, yang terlintas dalam hati dan pikiran ialah menangis, melamun, menyalahkan diri sendiri atau keadaan. Setiap orang yang mengejek dan mencaci maki tidak akan berhenti melakukannya, kecuali karena kesadarannya sendiri; waktu yang telah dihabiskan untuk melamun tidak akan mengurangi beban tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan dan membuat waktu penyelesaiannyaa jadi semakin lama; waktu yang telah dihabiskan untuk menyalahkan diri sendiri atau keadaan tidak akan mengubah kenyataan, kecuali jika yang bersangkutan membuat keputusan untuk mengupgarde diri dan sadar tidak dapat menyenangkan hati semua orang. Daripada terus menangis, melamun, menyalahkan diri sendiri dan keadaan, lebih baik memerintahkan diri untuk berdoa; memuji dan menyembah Dia.
Karena dengan berdoa; memuji dan menyembah Dia, yang bersangkutan akan menerima kekuatan ketika menerima ejekan dan caci maki. Memerintahkan diri untuk melakukan ketiga hal tersebut adalah hal yang mudah secara teori, tetapi tidak dalam pelaksanaannya. Adakalanya yang bersangkutan kembali meratap, menyalahkan diri sendiri atau keadaan. Namun, bukan berarti yang bersangkutan gagal melakukannya, melainkan belum terbiasa. Terus perintahkan jiwa untuk berdoa, memuji, dan menyembah Dia hingga suatu hari terbiasa melakukannya ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik hingga membuat jiwa tertekan.
Tuhan, penulis berdooa kepada setiap pembaca yang saat ini jiwanya tertekan. Agar terus memerintahkan jiwanya untuk berdoa, memuji, dan memuliakan namaMu. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!


