Handuk Kecil | Yohanes 13:4 (TB)
2 min read
Handuk Kecil
Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. (Yohanes 13:4 TB)
Judul renungan hari ini terinspirasi dari beberapa kisah yang terjadi pada tahun 2013 dan 2024. Penulis akan menguraikannya satu persatu.
Kisah pertama terjadi saat megnikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh gereja lokal tempat penulis beribadah pada November 2013. Pelatihan tersebut diberi nama Doulos Camp. Para peserta yang telah dibagi dalam beberapa kelompok akan dilatih menjadi pelayan yang excellent dan rendah hati. Tidak hanya melalui tugas yang diberikan oleh panitia, seperti mempersiapkan dan membereskan aula yang digunakan saat sesi; mempersiapkan dan membereskan ruang makan serta membersihkan lingkungan sekitar aula tetapi melalui Firman Tuhan yang disampaikan oleh pembicara; ungkapan terima kasih dan pengakuan dosa yang ditulis dalam secarik kertas serta simulasi pembasuhan kaki.
Mengenai simulasi pembasuhan kaki, jika Kristus mengeringkan kaki para murid dengan kain yang terikat pada pinggangNya, para peserta menggunakan handuk kecil untuk mengeringkannya. Sebelas tahun berlalu, penulis akan berlanjut pada kisah kedua.
Tepatnya pada ibadah Kamis Putih yang jatuh pada Maret 2024. Penulis mengikuti ibadah di gereja lokal tempat mama beribadah. Bukan penulis yang melakukannya melainkan penatua dan diaken.
Penatua dan diaken membasuh kaki jemaat dengan jenis kelamin yang sama. Sama sekali tidak ingat, apakah penatua atau diaken yang membasuh kaki penulis, yang teringat saat itu hanyalah perasaan bahagia. Karena makna mengenai pembasuhan kaki yang dilakukanNya tertanam kuat dalam ingatan. Bahwa Kristus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan berinkarnasi untuk mengajarkan kerendahan hati melalui pembasuhan kaki untuk selanjutnya membasuh manusia seutunnya. Andaikata jika Dia tidak berinkarnasi, kita tidak akan pernah tahu bahwa seluruh manusia harus rendah hati karena Allah yang disembah adalah Pribadi yang demikian, dan sampai selamnaya kita berada dalam kebinasaan kekal.
Pembasuhan kaki yang dilakukan saat ibadah Kamis Putih membuat penulis semakin bersemangat untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Tentu tidak mudah menyalibkan keegoisan dan dengan rendah hati menolong sesama. Tetapi penulis berkomitmen untuk terus melakukannya hingga karakterNya yang rendah hati tertanam kuat dalam diri penulis.
Penulis ingin menyampaikan sebuah pesan sebagai penutup. Penulis tidak tahu apakah kedua kisah yang diuraikan pada renungan hari ini dialami oleh pembaca atau tidak. Jika pembaca belum pernah mengalaminya, tentu akan diajarkanNya melalui kisah-kisah lainnya. Karena kerendahan hati tidak hanya dimiliki oleh orang biasa melainkan juga pemimpin. Tidak hanya pemimpin gereja tetapi juga komunitas rohani, pelayan misi, dan marketplace.
Tuhan, terima kasih telah mengajarkan tentang kerendahan hati melalui pembasuhan kaki yang Engkau lakukan saat itu. Biarlah makna kerendahan hati yang terkandung dibalik kisah tersebut dapat diterapkan dalam hidup saya.Tentu akan ada kisah lainnya yang Engkau tunjukkan untuk membentuk saya semakin menjadi pribadi yang demikian. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Yoh%2013:4


