Berdamai dengan Penderitaan | 2 Korintus 12:10 (TB)
2 min read
Berdamai dengan Penderitaan
Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:10 TB)
Setiap dari kita tentu tidak asing dengan sebuah pernyataan yang diucapkan ketika hendak bepergian. “Hati-hati di jalan!” Beberapa orang melanjutkan pernyataan tersebut, “kabari saya jika sudah sampai!” Kedua pernyataan tersebut menjelaskan bahwa tak ada seorangpun yang menginginkan terjadinya kecelakaan, entah saat berjalan kaki maupun saat berada di kendaraan.
Dengan berati-hati saat berjalan, tidak berkendara saat mengantuk, menggunakan sabuk pengaman, menggunakan helm. Semua diperhatikan dengan baik sampai tiba waktunya sesuatu hal yang buruk menimpa terjadi, entah karena kecerobohan atau musibah, yang bersangkutan mengalami luka. Hal tersebut mengejutkan orang terdekat korban, termasuk orang yang menyampaikan pernyataan yang penulis uraikan pada awal paragraf.
Bukanlah hal yang mudah bagi mereka menerima kenyataan. Walaupun tak mampu, mereka berusaha untuk menerima dan memilih untuk tidak meratap. Yang diwujudnyatakan dengan pengobatan, entah yang dilakukan secara langsung atau melalui tim medis.
Ketegaran mereka membuat yang bersangkutan menjadi kuat dan segera melakukan pengobatan yang dijalani hingga tuntas. Apa yang baru saja penulis uraikan tidak hanya terjadi pada diri yang bersangkutan. Bisa jadi, kenyataan yang terjadi saat ini terbalik. Pernyataan penulis tentang rasa sakit menjadi tidak berasa, tidak hanya ditujukan ketika orang terdekat kita mengalami kecelakaan, melainkan pergumulan hidup lainnya, seperti sakit-penyakit yang tetap datang meskipun sudah menjalankan pola hidup sehat; mengalami masalah ekonomi meskipun telah bekerja keras dan cerdas; dijauhi oleh banyak orang atas kesalahan yang tak pernah diperbuat. Apa yang baru saja penulis uraikan sangat cocok disematkan kepada Paulus.
Penderitaan yang Paulus alami bukan akibat dari kejahatan yang ia lakukan di masa lalu. Penderitaan tersebut dialami ketika dalam perjalanan pemberitaan Kabar Baik. mulai dari seringnya ia berada dalam bahaya maut, dipenjarakan, didera, disesah, dilempari batu, terkatung-katung di tengah laut akibat karam kapal, diancam bahaya penyamun, bahaya banjir, bahaya dari orang Yahudi dan non Yahudi, bahaya di padang gurun, sering tidak makan, tidak minum, tidak tidur bahkan yang terakhir, ia menerima pernyataan yang tidak mengenakkan – hanya berani tegas dalam surat, tetapi tidak pada saat menghadap muka. Penderitaan yang ia alami begitu berat. Namun, ia memilih untuk berdamai dengan semuanya itu karena rasa cinta yang mendalam pada Kristus. Kembali pada pernyataan penulis tentang pilihan untuk tidak meratap, Paulus pun demikian. Bukan karena kuat dan gagahnya, melainkan karena cinta kepada Tuhan.
Cinta kepada Tuhan menjadi penggerak bagi Paulus untuk tetap memberitakan Injil. Demikian juga kita semua yang membaca renungan hari ini, biarlah penderitaan yang datang, entah karena diundang atau tidak, menjadi penggerak bagi kita untuk mencintaiNya. Tidak hanya membuat kita jadi kuat dalam menghadapi rasa sakit, melainkan juga memantik semangat untuk memberitakan Injil yang diizinkan bekerja menguatkan dan mengubah hidup.
Tuhan, saya berkomitmen untuk senantiasa berdamai dengan keadaan meski sangat tidak mudah. Karena cara itulah yang membuat saya terus kuat dalam menghadapi setiap penderitaan, apapun bentuknya. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://www.alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=2Kor%2012


