Out from Comfort Zone | Kisah Para Rasul 20:19-20a (TB)
2 min read
Out from Comfort Zone
Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. (Kisah Para Rasul 20:19-20a TB)
Secara sederhana, keluar dari zona nyaman adalah berjalan keluar untuk melakukan hal yang tidak pernah diduga dan dibayangjkan sebelunmya. Awalnya membuat fisik lelah dan emosi terkuras banyak, tetapi akhirnya membuat hati jadi bangga karena tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang terdekat, melainkan juga orang banyak. Awalnya hanya untuk menambah pemasukan dan pengalaman yang berguna bagi diri sendiri dan orang terdekat, tetapi akhirnya mampu menolong sesama dengan hati yang tulus guna alasan kemanusiaan dan pekabaran Injil. Penulis akan jelaskan satu-persatu.
Menolong sesama guna alasan kemanusiaan ialah menolong korban bencana alam. Tidak hanya bencana yang terjadi di desa, tetapi juga di kota. Tidak hanya memberikan bantuan berupa sembako, obat-obatan,dan pakaian, tetapi turut andil dalam kehidupan di pengungsian, misalnya seperti mengajak anak-anak bermain, memasak atau menjadi tim medis. Mengapa disebut sebagai keluar dari zona nyaman? Karena bencana alam jarang terjadi.
Meskipun jarang terjadi, bencana alam sudah menjadi perhatian bersama, tetapi pekabaran Injil hanya baru menjadi perhatian orang Kristen. Pertanyaan muncul, bukannya setiap agama sudah mengetahui tentang pekabaran Injil? Betul, tetapi tidak semua orang menerima. Yang penulis maksudkan ialah pekabaran Injil di daerah mayoritas garis keras seperti yang dilakukan oleh Paulus.
Kembali pada penjelasan mengenai zona nyaman, selama ini Paulus adalah orang yang melakukan hukum Taurat sekarang mengabarkan tentang Kristus. Dahulu melakukan tindakan aniaya sekarang melakukan pelayanan dengan penuh kasih. Bagi orang yang selama ini melakukan pekabaran Injil lewat teknologi dan ibadah di gereja harus ikut melakukan ke daerah terpencil dan nyaris tidak ada gereja dengan tujuan tidak hanya menambah pengalaman, tetapi membuat Injil semakin dikenal oleh banyak orang. Kalau dahulu dilakukan dengan bersungut-sungut sekarang dengan penuh sukacita karena jiwa yang dijangkau untuk Kristus menjadi semakin banyak.
Tuhan, tolong ingatkan saya agar menginjil tidak hanya menggunakan teknologi, melainkan pelayanan secara langsung. Tidak hanya di kota, melainkan di daerah terpencil. Saya tidak hanya meminta pertolongan, tetapi juga mempersiapkan diri dan mental agar saya tidak terkejut ketika waktunya telah tiba, Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber: https://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Kis%2020:19


