Hanya Sebentar Saja | Yesaya 57:16 (TB)
2 min read
Hanya Sebentar Saja
Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. (Yesaya 57:16 TB)
Marah merupakan ekspresi tidak senang terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai keinginan dan harapan. Amarah manusia sangat berbeda dengan Tuhan, mengapa?
Karena Tuhan adalah pencipta dan pemilik atas segala sesuatu. Bukan hanya bumi beserta isinya tetapi juga pengetahuan, kasih, dan keadilan. Sementara manusia hanyalah ciptaan yang terbatas, terlebih setelah jatuh dalam dosa.
Terbatas memahami sifat, karakter serta kepribadian yang dimiliki oleh sesama; terbatas dalam memahami indikator dari kesalahan yang dibuat oleh sesama. Hati sesama menjadi tidak nyaman setiap kali yang bersangkutan meluapkan amarahnya. Terlebih jika yang bersangkutan belum memiliki hubungan yang mendalam dengan Tuhan.
Barangsiapa yang belum memiliki hubungan yang mendalam denganNya memiliki kecenderungan untuk memberikan nasihat dengan kata-kata yang tajam tetapi lupa untuk meminta maaf, memberikan semangat dan apresiasi; selalu mengingat kesalahan dan akan kembali mengungkitnya di masa mendatang. Jika sesama melanggar FirmanNya, yang bersangkutan akan menyudutkan sesama seolah-olah tidak layak mendapatkan pengampunan dan kesempatan kedua. Melalui renungan hari ini, penulis ingin mengingatkan diri sendiri, pembaca serta orang yang pembaca kasihi agar semakin memperdalam keintiman denganNya. Karena hanya cara itulah memberikan kekuatan dalam kendalikan amarah.
Sebab Tuhan lebih mengetahui sifat, karakter dan kepribadian sesama; mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi; mengetahui kemampuan yang dimiliki sesama dalam memahami FirmanNya. Kesempatan diberikanNya setiap kali manusia menyadari kelemahannya lalu bertobat. Kesadaran inilah menjadi penggerak bagi yang bersangkutan untuk mengendalikan amarah kemudian melakukan seperti Dia, yaitu memberikan kesempatan untuk belajar; sabar dalam membimbing, dan menyerahkan semua ke dalam tanganNya sembari kita mengucapkan maaf kalau ada perkataan, sikap dan perbuatan yang menyakiti lalu memberikan apresiasi atas keberanian mereka mengakui kesalahan dan komitmen untuk belajar dari kesalahan.
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber:


