The Best for Me | Pengkhotbah 3:11 (TB)
2 min read
The Best for Me
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3:11 TB)
Penulis akan memulai renungan hari ini dengan sebuah pertanyaan, apakah persamaan dan perbedaan daantara cuaca dan musim? Sama-sama berkaitan dengan kondisi udara, tetapi berbeda dengan durasi dan lokasi.
Durasi cuaca dapat segera berubah dalam hitungan jam dan waktu sementara musim berlangsung dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan. Cuaca hanya berlangsung pada suatu tempat sementara musim mencakup beberapa wilayah karena dipengaruhi oleh gerak semu matahari dan peputaran bumi. Dari penjelasan mengenai cuaca dan musim, penulis jadi teringat dengan perjalanan kehidupan.
Dalam perjalanan kehidupan, cuaca dipahami sebagai keadaan emosi yang bersangkutan saat itu – yaitu gembira, kesal, jengkel, marah, atau biasa saja – sementara musim dipahami sebagai suatu hal yang tak dapat dikontrol, seperti proses dalam melaksanakan segala sesuatu, sakit-penyakit, keadaan emosi yang berubah jadi dendam dan ratapan, kehilangan seseorang atau sesuatu. Bukanlah hal yang mudah ketika melewatinya lantaran terjadi di luar dugaan. Membuat hati dan pikiran bertanya-tanya, apakah maksud Tuhan dibalik semua ini? Seringkali membuat yang bersangkutan putus asa.
Ketika yang bersangkutan putus asa, tentu ada perasaan marah dan kecewa kepadaNya. Apakah yang saat ini sedang mengalami adalah pembaca atau orang yang pembaca kasihi? Siapapun itu yang mengalami, izinkan penulis menyampaikan nats hari ini kepada Anda, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Dengan kata lain, Tuhan punya rencana yang indah untuk membuat setiap orang semakin dewasa dan mendekat kepadaNya. Bukan menghindari, melainkan dilewati. Tidak hanya melalui doa, melainkan harapan yang disampaikan secara langsung atau dalam hati. Hingga suatu hari yang bersangkutan menjadi pribadi yang kuat dan dengan sukacita berkata, “terima kasih Tuhan untuk cuaca dan musim yang sedang terjadi dalam hidup saya. Saya menjadi dewasa dan memiliki cinta yang besar kepadaMu.”
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber:


