Ehud: The Left-handed Man | Hakim-hakim 3:21 (TB)
2 min read
Ehud: The Left-handed Man
Kemudian Ehud mengulurkan tangan kirinya, dihunusnya pedang itu dari pangkal paha kanannya dan ditikamkannya ke perut raja. (Hakim-hakim 3:21 TB)
Dahulu penulis mengira bahwa kidal itu kiri dari lahir. Setelah membaca beberapa akrtikel, penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa kidal merujuk kepada setiap orang yang secara dominan menggunakan tangan kiri, bukan hanya menulis dengan tangan kiri, melainkan aktivitas lainnya. Seseorang menjadi kidal bisa karena keturunan atau keadaan.
Entah karena keturunan atau keadaan, penulis tidak tahu mengapa menjadi seorang yang kidal. Awalnya merasa diri aneh. Namun, seiring bertambahnya usia, penulis merasa diri unik. Penulis yakin dan percaya, orang kidal lainnya pun merasa bahwa dirinya unik. Karena bagian otak yang digunakan ialah sebelah kanan sehingga menjadikan yang bersangkutan sebagai pribadi yang pintar, cerdik, dan berbakat. Keunikan tersebut merupakan uraian dari tim medis.
Uraian yang disampaikan oleh tim medis dari beberapa artikel kesehatan merupakan pengantar dari salah seorang tokoh Alkitab yang akan penulis bahas. Yaitu Ehud, seorang hakim bagi bangsa Israel yang berhasil melumpuhkan Eglon, raja Moab. Alkitab mencatat bahwa ia adalah seorang yang mampu membuat pedang bermata dua sepanjang satu hasta – pintar dan berbakat. Pisau tersebut ia gunakan saat membawa upeti kepada raja. Moment tersebut ia manfaatkan dengan berpura-pura menjadi pembawa pesan Allah bagi raja; segera ia tancapkan pisau ke tubuh Eglon kemudian ia pergi mengunci pintu lalu melarikan diri dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa – cerdik. Apa yang Ehud lakukan merupakan hikmat yang Dia berikan melalui keistimewaan yang ia miliki, yaitu menjadi seorang kidal.
Melalui kisah Ehud, kita belajar bahwa Tuhan memakai siapa saja untuk melaksanakan tugasNya. Jadi, bagi setiap orang kidal yang masih merasa diri aneh, mari nyatakan bahwa saya unik! Selain itu, renungkan dan ingatlah apa saja yang Tuhan lakukan melalui kepintaran, bakat serta kecerdikan yang dimiliki guna melaksanakan tugas yang Dia berikan.
Tuhan, penulis berdoa bagi siapa saja yang merupakan seorang kidal, tetapi masih merasa minder. Tolong ingatkan bahwa mereka itu unik dan berharga; bahwa mereka juga Engkau percayakan tugas untuk menjadi berkat bagi sesama. Amin!
Tuhan Yesus memberkati dan salam cemungud!
Sumber:


