Gerakan Baca Alkitab

Jadikan Baca Alkitab Sebagai Gaya Hidup

KasihNya Nyata Buat Anak Kami

6 min read

KasihNya nyata buat anak kami

“Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.”  Mazmur 103:17-18 (TB)

Shalom Bapak, Ibu, dan saudaraku semua di GBA.

Sebelum bersaksi, saya mau memperkenalkan diri. Saya Host Lidya Sutri Hariyani, ibu dari 4 orang putri, istri dari seorang suami tentunya, dan saat ini masih mempunyai 6 orang cucu. Kami tinggal di Solo Baru-Jawa Tengah.

Saat ini saya peserta baca di GBA D4 PL Normal, pembacaan dalam putaran ke 3.

Yang ingin saya saksikan adalah putri bungsu kami (putri ke 4). Sekarang dia sudah bekerja sebagai perawat di RS Siloam Surabaya.

Pada awal kuliah di UPH Tangerang, putri kami sebenarnya tidak kerasan. Selama hampir sebulan, dia sering menangis minta pulang, mungkin karena dia anak bungsu, sehingga tidak ingin jauh dari orangtua. Sebagai orangtua, kami hanya katakan bertahan saja, kamu masuk UPH kan sudah lewat doa, pergumulan. Sekarang sudah masuk, itu berarti seijin Tuhan dan merupakan rencana Tuhan. Saya minta dia bertahan supaya dampaknya bagus untuk sekolah SMA, dan adik kelasnya nanti dapat kesempatan lagi untuk kuliah di UPH dengan beasiswa. Singkat cerita, akhirnya putri kami bisa menjalani kuliah dengan baik, dan 2,5 tahun kemudian tiba saatnya untuk PKL (Praktek Kerja Lapangan). Sebelum penempatan PKL, dia bingung, merasa cemas dan khawatir jika ditempatkan di luar pulau. Dia tidak mau lebih jauh lagi dari orangtua. Kami hanya katakan kepada putri kami, agar tidak usah khawatir, cemas, dan takut. Bawa dalam doa dan digumuli dan juga diimani. Tuhan pasti akan menjawab doa kita sesuai dengan iman dan harapan kita.

Sungguh saudaraku, sesuai dengan doa dan iman, itulah yang terjadi. Dan putri kami PKL di Surabaya selama 1 tahun. Dia PKL sambil mengerjakan skripsi, juga meneruskan ke profesi Perawat-nya. Puji Tuhan, akhirnya selesailah semuanya. Walau sempat pindah ke RS Bekasi selama 3 bulan, untuk mendapat arahan wisuda S1 dan Perawat-nya di Tangerang. Karena pandemi, dia wisuda Online, juga oleh kemurahan Tuhan, Tuhan mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga dapat pulang, wisuda dari rumah Solo Baru.

Setelah wisuda, waktunya penempatan kedinasan. Untuk penempatan dinas pun dia khawatir dan cemas, takut ditempatkan di luar pulau. Karena pengalaman kakak-kakak kelasnya, kalau PKL nya di Jawa, maka penempatan dinas di luar pulau. Sebagai orangtua, kami sudah kasih nasehat bahwa tidak apa-apa walau di luar pulau karena sekarang komunikasi mudah. Tapi dia tetap tidak mau dan cemas. Akhirnya kami hanya kembali katakan, doa saja, gumuli dan Imani, percaya bahwa Tuhan sanggup menolong dan menjawab doa sesuai dengan iman dan kerinduan kita.

Terpujilah nama Tuhan! Tuhan mendengar dan menjawab doa kami, putri kami ditempatkan di Surabaya, sesuai dengan kerinduannya. Dengan semua ini, kita dapat katakan bahwa Allah yang kita punya adalah Allah yang sangat baik, Allah yang sangat perhatian dengan keadaan kita, dan yang selalu mendengar dan menjawab setiap seru doa kita, asal kita mau mendekat, berserah penuh kepada-Nya dan percaya dan imani setiap doa yang sudah kita mohonkan kepadaNya. Halleluya 🙏

Lanjut ya kesaksian saya. Pada tanggal 15 Juni kemarin, putri saya berulang tahun, umur 23 tahun. Kakak-kakak perawat bilang bahwa putri kami diberi kado untuk dinas di satgas covid, mulai tanggal 18 Juni, selama 2 minggu. Tetapi pada tanggal 16, dia mulai demam. Setelah usai dinas malam, dapat libur 2 hari, yaitu tanggal 16-17 Juni.Lumayan bisa buat istirahat. Sudah diberikan obat, tapi demamnya masih naik turun, dan badan terasa sakit semua, padahal tanggal 18 harus dinas di ruangan covid.

Sebagai orangtua, ketika kami dikabari, saya bilang, minta ijin saja, sedang demam masakan dinas di ruangan covid. Putri kami tidak berani minta ijin, ia tetap dinas di bangsal covid, dengan jadwal dinas pagi waktu itu. Karena masih demam dan sakit, tanggal 18 usai dinas, putri kami harus menjalani test darah dan foto thorax. Puji Tuhan, hasil test masih aman dan baik. Tanggal 19 masih dinas, walau badan masih demam dan sakit. Karena masih demam, usai dinas harus swab PCR. Terus terang, ketika mendengar anak sakit, saat jauh dari kami, hati ini sangat galau. Takut, khawatir, dan cemas mejadi satu. Apalagi ketika saya tahu, bahwa dia tidak sempat sarapan, hanya minum susu saja. Padahal seharian tidak bisa makan dan minum karena pakai pakaian APD. Sesak rasanya dada ini. Pikiran saya melayang, mengingat hal-hal yang buruk, ingat pada teman dan saudara yang telah dipanggil Tuhan karena covid. Pikiran saya jadi terintimidasi. Dan setiap saya teringat putri kami yang sedang sakit, saya selalu katakan: “Jangan Tuhan, Jangan dipanggil..” Karena hanya putri bungsu kami yang setelah tamat SMA, harus merantau untuk meneruskan studinya.

Selesai dinas, karena masih demam, badan sakit semua dan pening, putri kami swab PCR. Setibanya di kost, saya suruh makan dulu. Dia bilang tidak enak makan. Tapi saya tetap paksa makan, supaya perut terisi. Beli bakso, supaya mulut agak enak, segar, lalu minum obat dan istirahat. Putri kami bilang, capek dan mau istirahat. Secara manusia, pikiran saya sangat galau. Tapi, Puji nama Tuhan, malamnya bisa tidur dengan pulas sekali. Dan ketika hasil swab keluar, dia positif Covid. Dari pihak RS dan kakak yang dinas malam saat itu, menelpon putri kami untuk dijemput untuk isolasi di RS, supaya ada yang mengurus makan dan lain-lain. Karena putri kami kost kamar sendiri, di Surabaya, mereka pikir, tidak ada yang menyiapkan makanan kalua isoman. Tapi anak saya tidak mendengar dan tidak bangun ketika dihubungi beberapa kali. Dia tidur lelap sekali. Pagi harinya, tanggal 20 hari Minggu, ketika dia bangun, baru tahu kalau semalam beberapa orang menghubungi dan hasil swab positif. Kami dikabari bahwa hasil swab positif, tapi putri saya tidak mau isolasi di RS. Maunya isolasi mandiri. Sebagai orangtua, kami juga tidak bisa memaksa untuk isolasi di RS. Karena dengan paksaan, hasil juga tidak baik. Kami berpikir, satu-satunya jalan adalah kami, orangtua harus menemani isoman, supaya ada yang menyiapkan makan dan merawatnya. Kami tidak berpikir akan tertular, yang kami pikir hanyalah sebagai orangtua, harus ada di dekat anak yang sedang sakit, bergumul dengan covid, agar dia tidak merasa sendiri, ketika bergumul dengan sakitnya. Biar hatinya lebih tenang dan ada sukacita ketika bersama dengan orangtuanya. Firman Tuhan katakan, bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur. Kami tahu, secara logika manusia, kami melawan arus, tetapi dengan IMAN yang kuat, kami akan tetap menemani anak isoman.

Selesai ibadah Minggu, siang hari kami berangkat ke Surabaya dengan iman. Sampai di Surabaya, jam 18.00 (6 sore). Kami tiba di rumah anak pertama di Sedati Sidoarjo, Surabaya. Saat itu juga, suami dan anak mantu menjemput anak bungsu kami yang sakit untuk tinggal Bersama kami di rumah Sedati. Ketika bertemu dengan putri saya, walau harus dengan jaga jarak, hati saya malahan merasa tenang, tentram. Rasa takut, khawatir dan cemas sudah dihilangkan oleh Tuhan, dan tidak terintimidasi lagi. Dengan kasih dan sabar, kami merawat dan menyediakan makan untuk putri kami. Mengingatkan untuk minum obat, berjemur dan sebagainya. Alhasil, karena hati putri kami tenang dan senang, membawa kebaikan pula pada kesehatannya. Semakin hari, semakin membaik.

Empat hari kemudian, pada hari Kamis, tanggal 24 Juni, jadwal putri kami untuk swab. Karena mesti dari daerah sebagai perawat, dan harus ke RS, maka dia kami kembalikan ke kostnya dengan kesehatan yang jauh lebih baik tentunya. Walau hasil swab masih positif, karena masih 4 hari sejak terdeteksi, tetapi kami percaya bahwa Tuhan pasti menyembuhkan dan memulihkan kesehatan putri kami. Terpujilah nama Tuhan.🙏

Hari Jumat pagi, kami juga swab, karena hari Jumat sore harus pulang ke Solo. Kami tidak mau membawa ketakutan dan kekhawatiran bagi keluarga dan jemaat. Karena memang banyak yang mengkhawatirkan kami tertular, (teman hamba Tuhan, saudara seiman, keluarga dan juga jemaat). TerPujilah nama Tuhan. Hasil swab kami Negatif. Kami tidak habis-habisnya mengucap syukur kepada Tuhan, karena Tuhan sangat baik, sangat hebat kuasaNya. KuasaNya lebih hebat dan dahsyat daripada roh-roh yang ada di dunia ini.

Saya tahu bahwa covid adalah pekerjaan kuasa kegelapan, yang diijinkan Tuhan untuk mengacaukan dunia. Namun kita percaya, dengan IMAN yang kuat dan teguh, kita dapat mengalahkan dunia. Kita akan menjadi pemenang. Dan kemenangan itu adalah pemberian Tuhan. Amin. Demikian kesaksian saya. Terima kasih. TYM. 🙏

Kesaksian Oleh : Lidya Sutri Hariyani (Peserta GBA D4)

Share Artikel ini

Arsip

Event & Kegiatan

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Sosial Media GBA Center

Open chat
Butuh Bantuan!
Shalom! 👋🏻
Ingin bertanya tentang Gerakan Baca Alkitab dan pelayanannya? 🙏🏻

Kami melayani chat dari Jam 9.00 - 17.00 WIB
can't talk, whatsapp only